Etika Bertamasya ke Jepang, Pahami Aturannya!

blank

Etika bertamasya ke Jepang tentu berbeda dengan etika bertamasya di Indonesia. Sebagaimana peribahasa ‘dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung’, sebagai wisatawan kalian harus menghormati adat dan tata krama setempat.

Biasanya ketika liburan ke Jepang, kalian akan mampir ke kuil, tempat belanja, kafe, atau onsen. Supaya tak menyinggung warga lokal secara tak sengaja, ada baiknya kalian memahami berbagai etika dan aturan bertamasya berikut ini.

Larangan Fotografi

Etika bertamasya ke Jepang

Tidak semua tempat bisa kalian ambil fotonya ya, tempat seperti kuil, wihara, galeri seni atau museum akan melarang pengunjungnya mengambil foto. Jadi sebelum mengeluarkan ponsel atau kamera, kalian harus memastikan tak ada larangan mengambil gambar di tempat tersebut.

Kalau kalian ragu, bisa bertanya lebih dulu jika ada petugas. Dengan begitu kalian akan diberi arahan mengenai tempat yang boleh dan tak boleh diambil gambarnya. Apabila melanggar larangan ini, siap-siap mendapat teguran ya!

Cara Beribadah di Kuil

blank

Ketika mengunjungi kuil, kalian bisa berdoa atau hanya sekedar berjalan-jalan di area depan tempat ibadah tersebut. Jika ingin berdoa, ada aturan yang harus kalian lakukan, diantaranya:

  • Cuci tangan terlebih dahulu, kemudian berkumur dengan air yang ada di bak air atau chozuzha, gunanya untuk menyucikan diri.
  • Mencuci tangan harus menggunakan gayung kayu yang tersedia, apabila tak ada bisa langsung mencuci tangan lewat tempat air di dekatnya.
  • Berjalanlah ke ruang ibadah, ada kotak sumbangan yang bisa kalian isi. Lemparkan koin dengan uang 5 yen atau 10 yen.
  • Bunyikan lonceng beberapa kali, kemudian tundukkan badan dan tepuk tangan sebanyak dua kali.
  • Panjatkan doa kepada Kami, jika sudah tundukkkan badan sekali lagi.

Aturan Menonton Seni Tradisional

Etika bertamasya ke Jepang

Etika bertamasya di Jepang yang tak boleh kalian lupakan adalah aturan ketika menonton seni tradisional. Untuk menghormati pertunjukan tersebut, sebaiknya matikan ponsel dan hindari berbicara ketika pertunjukan sudah mulai.

Seni pertunjukan tradisional seperti kabuki umumnya melarang penonton untuk membuat rekaman video atau mengambil foto. Pastikan kalian tak melanggarnya jika tak ingin mendapat usiran dari ruang pertunjukan.

Etika Bertamasya ke Jepang: Antri di Restoran

blank

Umumnya ketika restoran atau kafe sudah penuh, kalian harus mengantri di luar. Beberapa tempat bahkan menyediakan buku khusus untuk menuliskan nama mereka dalam daftar antrian. Jadi sebelum duduk, coba cari buku tersebut atau tanya pelayan yang bertugas.

Setelah menuliskan nama, silahkan mengantri sampai mendapat panggilan untuk masuk. Tidak semua restoran di Jepang memperlakukan sistem ini kok, kalau memang butuh makan cepat, kalian bisa datang ke restoran yang lebih longgar pengunjungnya.

Tata Krama Ketika di Onsen

Etika bertamasya ke Jepang

Liburan ke Jepang tak akan lengkap tanpa mencoba menginap di ryokan dan menikmati onsen atau mandi air panas. Meski sederhana, ternyata menikmati onsen juga ada aturannya, yakni:

  • Bilas tubuh terlebih dahulu dengan air panas sebelum masuk ke bak, tujuannya untuk memberikan kotoran dan keringat yang menempel. Cara ini juga bisa membuat kalian tahu suhu air panas dalam bak.
  • Masuklah ke dalam bak air panas jika sudah, jangan berenang di dalam bak dan jangan berisik. Selain itu, pengunjung tak boleh membawa handuk ke bak mandi.
  • Setelah selesai menggunakan ember atau kursi, kembalikan ke tempatnya.

Nikmatilah kunjungan wisata ke Jepang dengan melakukan etika bertamasya tersebut. Dengan cara ini, kalian akan dianggap pengunjung yang santun dan tidak menganggu orang lain yang juga sedang menikmati liburannya.