Budaya Jepang Omairi: Berdoa di Kuil dan Wihara

blank

Budaya Jepang omairi merupakan budaya yang lekat dengan masyarakat Jepang. Pasalnya tiap tahun ada kebiasaan untuk datang berdoa ke kuil atau wihara, khususnya pada tahun baru. Masyarakat umumnya beribadah di dua tempat, kuil Shinto dan kuil Budha atau Wihara.

Sebagaimana namanya, Kuil Shinto digunakan untuk menyembah Kami, dewa Shinto. Sedangkan Kuil Budha atau wihara merupakan tempat dimana biksu dilatih, namun sekarang kuil ini hanya khusus untuk aktifitas ibadah saja. Untuk kalian yang tertarik mengikuti budaya Jepang, harus paham mengenai kebiasaan omairi ini.

Langkah Awal Memasuki Kuil

Budaya Jepang omairi

Ketika berkunjung ke kuil, kalian bisa berdoa untuk kebaikan sendiri atau datang untuk menyenangkan Kami. Ingat untuk mematuhi peraturan umum dalam kuil agar tak membuat orang lain, terutama penganut agama setempat, menjadi kurang nyaman.

Saat mengunjungi kuil Shinto, kalian akan melewati gerbang yang disebut ‘torii’. Torii ini merupakan batas antara dunia luar dengan dunia tempat Kami tinggal. Serupa dengan kuil Budha, ketika masuk kalian akan melewati gerbang bernama ‘sanmon’. Dengan masuk ke kuil, kalian sudah masuk ke tanah yang suci. Jadi pastikan untuk menghargai segara sesuatu yang ada.

Melakukan Pemurnian dengan Temizuya

Budaya Jepang omairi

Setiap kuil umumnya memiliki wadah atau tempat air bernama temizuya. Jamaah atau pengunjung yang datang harus menyucikan diri terlebih dahulu, baik secara kiasan atau harfiah. Untuk melakukan pemurnian menggunakan temizuya, kalian bisa ikuti panduan berikut:

  • Ambil sendok kayu yang tersedia dengan tangan kanan, isikan dengan air, kemudian bersihkan tangan kiri.
  • Lakukan hal yang sama untuk tangan kanan, dengan mengambil sendok kayu menggunakan tangan kiri.
  • Tuangkan air ke telapak tangan kiri, bilas mulut dengan air. Jangan diminum, air ini akan kalian ludahkan kembali.
  • Jika sudah, bersihkan tangan kiri kembali. Angkat sendok kayu ke posisi vertikal untuk membersihkannya dari air yang tersisa.
  • Letakkan sendok kayu seperti sebelumnya.

Pelaksanaan Budaya Jepang Omairi

blank

Budaya Jepang omairi atau berdoa di kuil punya aturan yang berbeda antara kuil Budha dan Shinto. Untuk memudahkan kalian memahami perbedaannya, berikut rincian yang bisa kalian pahami.

1. Berdoa di Kuil

Jika berdoa di kuil, kalian harus melemparkan koin terlebih dahulu. Biasanya berupa koin 100 atau 50 yen. Setelahnya bunyikan bel atau gong, fungsinya untuk mendapatkan perhatian dari Kami. Kemudian bungkukkan badan dengan sudut 90 derajat, lakukan sebanyak dua kali.

Lanjutkan dengan bangkit kembali dan menepukkan kedua tangan sebanyak dua kali. Kalau kalian ingin berdoa, ucapkan doa setelah melakukan dua tepukkan tangan. Lakukan dalam hati, sebab Kami tak butuh kata-kata yang terucap.

2. Berdoa di Wihara

Melakukan doa di wihara tak beda jauh dengan yang ada di kuil. Kalian akan sama-sama melemparkan koin ke dalam kotak persembahan. Jika sudah, bunyikan gong yang tersedia beberapa kali. Jika tidak ada, kalian bisa langsung menepuk tangan dua kali.

Apabila tak ingin bertepuk tangan, bisa menempelkan kedua tangan di dada dan ucapkan doa yang kalian inginkan dalam hati. Terakhir, silahkan membungkuk untuk memberikan hormat setelah menyelesaikan tahapan omairi.

Perbedaan Berdoa di Kuil dan Wihara

Meskipun penjelasan berdoa di kuil dan wihara merupakan bentuk ibadah, jenis doa untuk kuil dan wihara berbeda lho. Umumnya untuk kuil, orang-orang berdoa untuk keberhasilan duniawi. Sedangkan untuk wihara, kebanyakan berdoa agar mereka masuk surga.

Menarik bukan budaya omairi yang ada di Jepang? Jika tertarik untuk melihat bagaimana prosesnya, kalian bisa datang ke kuil-kuil yang yang tersebar di tiap kota matahari terbit ini.