Review Anime Dororo, Manusia yang Tak Punya Tubuh

blank

Dororo merupakan seri manga populer yang usianya sudah lebih dari 50 tahun ketika adaptasinya tayang. Pengarang dari seri ini adalah Osamu Tezuka, yang sebelumnya mengarang Astroboy. Review anime Dororo tentu akan berbincang tak hanya mengenai kualitas animenya, namun juga sedikit kilas balik manganya.

Seri Dororo cukup terkenal karena Mappa Studio merupakan pihak yang mengeksekusi manganya. Beberapa bagian mendapatkan perubahan untuk menampilkan nuansa yang lebih kelam, serius, dan mencekam. Berikut ulasan lengkap mengenai anime Dororo.

Sinopsis Anime Dororo

review anime dororo

Dororo mengisahkan Hyakkimaru, seorang manusia yang berkelana membasmi iblis. Bedanya, Hyakkimaru tak punya tubuh lengkap, ia lahir tanpa mata, telinga, lengan, kaki, bahkan ia tak punya kulit. Secara sekilas, ia memang tak terlihat seperti manusia pada umumnya.

Awalnya ayah Hyakkimaru mencoba untuk mempertahankan daerahnya dari berbagai musibah. Setelah putus asa, ia berdoa pada iblis untuk membantunya. Para iblis bersedia membantu, sebagai gantinya mereka akan memakan anak pertama yang lahir, tak lain adalah Hyakkimaru.

Ayahnya tak peduli, menurutnya seorang anak tak berarti karena nanti ia tetap bisa punya anak lagi. Sayangnya setelah lahir dan dimakan iblis, Hyakkimaru tak mati, ia dibuang dari keluarga tersebut dan tinggal dengan seorang pertapa yang membantunya belajar bela diri untuk mengalahkan iblis.

Tiap ia berhasil mengalahkan seorang iblis, bagian tubuhnya berangsur-angsur kembali. Sayangnya dengan kembalinya anggota tubuh Hyakkimaru, maka perlindungan yang diberikan oleh iblis juga akan hilang. Kisah berlanjut dengan kebimbangan Hyakkimaru akan hal tersebut.

Kualitas Seri Anime

blank

Dororo terbagi menjadi dua bagian; petualangan Dororo dan Hyakkimaru serta bagian konflik yang lebih serius. Seri ini tayang selama dua core, sehingga pembagian ini membuat plot dan cerita tersampaikan dengan baik.

Untuk bagian pertama, kalian bisa melihat bagaimana Dororo mendapatkan anggota tubuhnya kembali. Bagian ini cukup klise, meski episodik, kalian bisa menebak bagaimana ending dari tiap arc yang muncul. Aura feudal yang khas di zaman kerajaan Jepang juga tetap bisa kalian rasakan.

Pada bagian kedua, show akan menjadi lebih lambat namun terasa menyedihkan. Tekhnik slow burn ini akan membuat penonton menjadi makin dekat dengan keinginan Hyakkimaru untuk mendapatkan tubuhnya kembali, namun bimbang karena harus mengorbankan suatu yang lain.

Review Anime Dororo: Teknis Produksi

review anime dororo

Membahas teknis produksi dalam review anime Dororo tak boleh ketinggalan. Sebagai salah satu proyek Mappa, Dororo berhasil membawakan kualitas gambar yang stabil sepanjang seri berjalan. Belum lagi perpaduan Yasuko Kobayashi sebagai direktur dari seri ini.

Kobayashi berhasil menghadirkan Dororo versi baru dari manganya yang rilis tahun 60-an. Perubahan tersebut membuat cerita menjadi lebih hidup, dengan penambahan elemen disana sini yang membuat serinya menjadi lebih enak untuk dinikmati.

Mengenai urusan suara, tiap seiyuu cukup baik memerankan tiap karakter. Dororo nampak lively dan berhasil membuat anime ini jadi lebih hangat. Penambahan BGM, pemilihan ending dan opening song juga membuat seri ini memiliki rate yang tinggi.

Manusia adalah Produk dari Alam

Dororo berhasil membawakan sebuah pemahaman bahwa manusia merupakan produk dari alam. Beberapa lahir dengan keserakahan tinggi, yang lain hidup dengan sedikit keberuntungan seperti Hyakkimaru. Peperangan yang terus terjadi mengorbankan banyak hal, dari keluarga, harta, hingga kebahagiaan.

Anime ini berhasil menjadi tontonan yang menarik, tak hanya sebagai hiburan, namun juga sebagai pembelajaran mengenai dampak buruk perang dan berbagai sifat manusia. Dengan review anime Dororo, apakah kalian jadi tertarik untuk menontonnya?