Mengenal Budaya Geisha, Kesenian Tradisional Jepang

Fakta unik budaya geisha jepang

Jepang merupakan negara yang menjunjung tinggi budaya daerah. Maka tak heran banyak budaya mereka yang terselip pada industri hiburan Jepang. Tak jarang juga kita menemui budaya asli khas Negeri Sakura  yang ada pada anime, manga, film maupun majalah. Dari situlah awal mula budaya jepang menjadi terkenal dan jadi sorotan oleh dunia. Salah satu contoh kearifan likal  Jepang yang terkenal dan unik adalah budaya geisha.

Sosok Geisha menampilkan gambaran perempuan cantik yang pandai dalam melukis, menari, menyanyi, memainkan alat musik, berperilaku baik, dan memiliki tutur kata yang lembut. Hal inilah yang menarik banyak perhatian dari mata mancanegara. Hingga pada akhirnya geisha menjadi salah satu ikon budaya asli Jepang.

Asal Usul Budaya Geisha

Sejarah geisha, geiko, dan maiko

Sejarah di Jepang mencatat bahwa budaya geisha pertama di jepang bukanlah seorang wanita, melainkan pria. Geisha pria ini disebut sebagai taikomochi yang muncul di kisaran abad ke-13. 

Tidak ada perbedaan antara tugas geisha dengan tugas taikomochi. Mereka sama-sama bekerja sebagai seniman untuk menghibur tamunya dengan mempertunjukkan budaya klasik khas Jepang. Sedangkan geisha wanita pertama di Jepang kemunculannya ada di tahun 1751. Seiring dengan waktu, geisha menjadi lebih populer daripada taikomochi. Hal ini menyebabkan semakin sulitnya dalam menemukan taikomochi yang masih tersisa.

Pusat kebudayaan geisha sendiri berada di Kota Kyoto, masih lestari dan tidak berpindah sejak dahulu. Kyoto memiliki sebutan yang unik untuk wanita yang berprofesi sebagai geisha yaitu geiko. Sementara wanita yang masih belajar untuk menjadi geisha mendapat sebutan maiko.

Geisha Sebagai Ikon Budaya Jepang

Ikon geisha dari jepang

Budaya geisha memiliki standar yang tinggi, ia mendapat tuntutan untuk terampil dalam melukis, menyanyi, memainkan alat musik tradisional seperti shamisen, menari, dan tata krama upacara minum teh. Geisha juga harus berpenampilan rapi, cantik, lemah lembut dan sopan.

Mereka juga wajib dan mampu dalam menghibur kliennya dengan etika baik. Maka dari itu maiko perlu menjalani masa belajar selama 5 tahun terlebih dahulu agar bisa menjadi geisha. Tak jarang juga wanita yang telah resmi menjadi geisha tetap belajar seni dan mengasah kemampuannya agar dapat menjalankan profesinya dengan lebih baik.

Tingkah para pelaku budaya geisha yang lemah lembut, pintar, komunikasi baik, serta keterampilan mereka dalam hal seni menjadi sebuah kemewahan tersendiri. Masyarakat lokal juga menganggap geisha sebagai wanita bermartabat tinggi sehingga tak bisa sembarangan disewa. Maka dari itu, jika kamu bertemu geisha di jalan jangan asal memotretnya. Datang saja ke kedai teh dan geisha akan menari untukmu.

Geisha pada umumnya hanya disewa oleh konglomerat  atau orang kaya. Sehingga acara atau jamuan yang membawa geisha sebagai penghibur  memiliki nilai status sosial lebih tinggi. 

Uniknya Riasan Geisha

Make up geisha

Hal menarik dari budaya geisha adalah tata rias yang memiliki ciri khas tersendiri. Ciri tersebut sangat terlihat mencolok dengan riasan wajah putih bersih seperti porselen. Baik maiko maupun geisha, keduanya merias wajah putih.

Riasan tersebut bermaksud agar ekspresi yang ada di geisha lebih terlihat. Uniknya para gadis yang akan menjadi geisha selalu saling membantu merias wajah dengan pengawasan langsung dari geisha senior. 

Riasan wajah untuk maiko dan geisha memiliki sedikit perbedaan. Maiko biasanya berdandan lebih mencolok daripada geisha. Selain itu, mereka juga hanya memulas salah satu bibirnya saja. Tengkuknya pun tidak akan dicat sebagai simbol bahwa maiko tersebut masih muda dan belum menjadi geisha.

Demikian artikel mengenai budaya geisha yang berasal dari Jdpang. Menarik bukan budaya Jepang yang satu ini? Fakta mana yang membuatmu tertarik untuk bertemu dengan geisha secara langsung?