Jenis Onomatope pada Bahasa Jepang: Ekspresi dari Bunyi

blank

Jenis onomatope pada Bahasa Jepang ada banyak ragamnya. Sebagai bahasa Jepang dari hasil ekspresi bunyi, onomatope akan memudahkan kalian ketika berkomunikasi. Tak hanya Jepang, banyak bahasa di dunia juga punya onomatope.

Untuk kalian yang ingin lebih mahir berbicara bahasa Jepang, mempelajari tata bahasa ini cukup penting. Sebab orang Jepang punya kebiasaan untuk menggunakannya ketika sedang berbicara.

Apa Itu Onomatope?

jenis onomatope pada bahasa jepang

Bagi yang belum paham, onomatope adalah tiruan dari bunyi sesuatu; bisa hewan atau benda, bunyi aktifitas tertentu dan keterangan suatu keadaan. Contoh yang paling mudah bisa kalian lihat ketika seseorang meniru suara kucing.

Di Indonesia, onomatope suara kucing adalah ‘meong’ atau ‘miaw’. Berbeda untuk Jepang, onomatope yang digunakan adalah ‘nyaa’. Dalam tata bahasa Jepang, pemakaian onomatope akan memudahkan kalian melakukan percakapan sesuai dengan konteks.

Kata-kata tiruan dari benda atau hewan ini juga unik. Biasanya onomatope bahasa Jepang memiliki penggulangan kata. Namun ada juga onomatope yang dilafalkan dengan volume yang rendah.

Jenis Onomatope pada Bahasa Jepang

jenis onomatope pada bahasa jepang

1. Giseigo

Jenis yang permata dari onomatope adalah giseigo, biasanya sering digunakan untuk mengekspresikan makhluk hidup. Ciri khas dari onomatope ini adalah penulisannya menggunakan katakana, contohnya adalah:

  • Kaaakaaakaa : punya arti sebagai suara burung gagak.
  • Piyo-piyo-piyo : merupakan suara dari anak ayam yang masih kecil.
  • Wan-wan-wan : adalah onomatope dari suara anjing.

2. Giongo

Berbeda dengan giseigo, giongo merupakan suara yang berasal dari benda mati. Misalnya suara hembusan angin, gemericik air, dan lainnya. Serupa dengan giseigo, giongo menggunakan katakana sebagai penulisannya. Contoh dari pemakaian giongo adalah:

  • Dokan! : memiliki arti sebagai suara ledakan atau bom.
  • Zaa-zaa-zaa : punya arti sebagai suara hujan yang deras.
  • Don-don-don : adalah suara dari pukulan yang berulang.

3. Gitaigo

Selain dua jenis onomatope sebelumnya, ada juga gitaigo. Gitaigo merupakan kata-kata yang mengungkapkan keadaan, menggambarkan kondisi, serta onomatope yang bisa terasa oleh indra manusia. Penulisan gitaigo menggunakan aksara hiragana, contohnya adalah:

  • Shiin : suara yang akan keluar ketika suasana tengah sepi.
  • Pika-pika : merupakan bentuk onomatope dari sesuatu yang berkilau.
  • Boro-boro : artinya keadaan yang rombeng atau compang camping.

4. Giyougo

Jenis onomatope pada bahasa Jepang selanjutnya adalah giyougo, yang mengekspresikan tingkah laku dari makhluk hidup. Kadang giyougo terhitung sebagai bagian dari gitaigo. Kalian juga bisa menggunakan onomatope ini untuk menggambarkan aktivitas manusia, diantaranya:

  • Pon : artinya tepukan, digunakan ketika seseorang menepuk bahu.
  • Niya-niya : merupakan ekspresi ketika seseorang tersenyum dengan miris.

5. Gijougo

Onomatope terakhir adalah gijougo, yang merupakan sub bagian dari gitaigo. Fungsinya untuk menirukan keadaan atau psikologis manusia. Gijougo yang paling populer adalah sebagai berikut:

  • Doki-doki suru : artinya adalah perasaan yang berdebar-debar.
  • Hara-hara : punya arti sebagai gambaran ekspresi gugup.

Fungsi dari Onomatope

jenis onomatope pada bahasa jepang

Ada tiga fungsi dari onomatope, jika kalian menambahkannya dengan imbuhan ‘suru’, maka ia akan menjadi kata kerja. Contohnya ada di onomatope ‘doki-doki suru’. Akan berbeda kalau kalian menambahkannya dengan imbuhan ‘no’, maka ia bisa menjadi kata sifat, contohnya ‘pika-pika no yuka’ atau ‘lantai yang bersinar’.

Kalian juga bisa menggunakan onomatope sebagai kata tiruan dari kata benda, misalnya pada onomatope ‘doki-doki ga tomari masen’, yang artinya ‘berdebar tak karuan’. Pemakaian onomatope tetap harus kalian perhatikan, gunakan sesuai konteks agar orang lain bisa memahaminya dengan mudah.

Menarik bukan berbagai jenis onomatope pada bahasa Jepang? Apakah kalian siap menggunakan onomatope di percakapan sehari-hari?