Budaya O-chugen, Mengirim Bingkisan di Musim Panas

blank

Ketika kalian mampir ke Jepang di musim panas, kalian akan sering melihat toko dan departemen store memasang iklan ‘bingkisan untuk musim panas’. Ternyata di Jepang ada budaya o-chugen atau mengirimkan bingkisan permulaan dan saat musim panas.

Budaya ini sudah mengakar secara turun temurun dan cukup menarik buat ditelaah. Kalau kalian ingin mengenal lebih dalam mengenai o-chugen, simak penjelasannya dalam artikel budaya ini ya.

Apa Itu Budaya O-chugen?

blank

Memberikan bingkisan atau o-chugen merupakan kebiasaan untuk mengungkapkan terima kasih. Khususnya kepada kerabat, kenalan, atau rekan kerja karena sudah menolong. O-chugen juga sebagai media balas budi atas kebaikan yang sudah kalian dapatkan dari orang lain.

Awal mula budaya ini kemungkinan berasal dari festival khusus untuk memuja Tenjin, salah satu dewa Jepang. Pemujaan Tenjin berasal dari kultur Taoisme dari Tiongkok Kuno, hari pemujaan dewa ini mendapat sebutan jogen, chugen, dan kagen.

Chugen merupakan perayaan pada 15 Juli tiap tahunnya, di hari tersebut banyak orang mengirimkan hadiah sebagai bentuk perayaan festival Jepang kuno. Makin lama, kebiasaan ini berlanjut dan menjadi budaya o-chugen seperti sekarang ini.

Kapan Memberikan Bingkisan O-chugen?

budaya o-chugen

Budaya o-chugen biasanya umum terjadi pada musim panas. Pada era Meiji tahun 1897, o-chugen hanya diberikan pada orang-orang yang berhutang karena masalah pekerjaan atau bisnis. Pada tahun tersebut, terjadi pula penurunan penjualan di toko-toko, sehingga mereka melakukan promosi besar tiap musim panas.

Karena beberapa barang harganya terjangkau pada musim panas, akhirnya o-chugen mulai ramai dilakukan saat musim ini. Untuk wilayah sekitaran Kanto, o-chugen bisa kalian berikan pada pertengahan Juli. Hal yang sama untuk mayoritas perfektur Jepang yang lain.

Berbeda dengan wilayah Kansai, o-chugen mereka lakukan pada awal hingga pertengahan Agustus. Ini karena kebanyakan warga Kansai menggunakan kalender yang lebih lambat dari kalender lunar, sehingga mereka mengirim o-chugen satu bulan lebih lama.

Apa Saja Isi Bingkisan O-chugen?

blank

Isi o-chugen biasanya mie soumen, mie jenis ini merupakan mie yang awet dan tahan lama, sehingga cocok untuk hadiah. Bentuknya yang panjang dan tipis memiliki harapan bahwa hubungan antara pemberi dan penerima o-chugen, meski terpisah, tetap panjang dan baik.

Pada era Edo, mie soumei juga menjadi barang yang mewah dan hanya bisa disantap oleh shogun dan orang-orang yang bekerja di pengadilan. Hingga sekarang, kebanyakan orang memberikan mie soumen sebagai hadiah standar.

Tapi karena banyaknya kasus pitam panas di Jepang pada musim panas, hadiah o-chugen mulai variatif. Beberapa orang memberikan minuman sejuk, bir atau jus sebagai hadiah. Buah-buahan dengan kandungan air yang tinggi seperti melon dan mangga juga populer.

Shochu Mimai dan O-chugen

budaya o-chugen

Membahas mengenai o-chugen pasti teringat dengan shochu mimai, yang merupakan perpanjangan dari budaya memberikan bingkisan ini. Dulu karena jarak yang jauh, orang Jepang mengirimkan o-chugen dengan perwakilan.

Biasanya akan dikirimkan pula kartu pos, surat, atau kartu ucapan sebagai tambahan. Jika melihat kebiasaan o-chugen, maka surat ini akan terkirim antara 7 Juli hingga 7 Agustus. Kebiasaan ini kemudian mendapat nama shochu mimai, yang artinya menulis surat persalaman pada musim panas.

Menarik bukan budaya o-chugen dari Jepang ini? Meski kehidupan di Jepang sudah modern, namun kebanyakan masyarakatnya masih berpegang teguh dengan adat dan budaya. Inilah yang membuat Jepang menjadi negara yang unik dan berkarakter.